FIKSI

Pesan Bapak (4)

pesanbapak

Halo, nak.
Duh, maaf Bapak udah lama ndak ngirimi kamu tulisan. Waktu Bapak habis buat ngurusi usaha tupperware Ibumu tu lho. Lumayan nak, sekarang udah bisa ekspor ke kampung sebelah. Rencananya bulan depan mau coba dagang pake onlen, mumpung kemaren dapet hadiah hape mito dari koperasi.

Di kampung lagi heboh gerhana matahari nak, banyak yang jualan kacamata plastik, nek di situ piye? Bapak tuh ndak ngerti gerhana, yang Bapak ngerti ki ya cuma menyayangi Ibu dan kamu, hidup Bapak.

Eh, kata Ibu kamu sudah punya pacar? Kapan mau dikenalin ke Bapak? Bukannya Bapak nyusu-nyusu , cuma pengen kenal aja. Masalah nanti mau jadi atau ndak kan urusan Tuhan, yang penting kita harus memberikan terbaik buat pasangan kita, jangan disakitin, contohlah Bapak sama Ibumu ini.

Coba tanya Ibumu, kapan Bapak pernah nyakiti Ibu, palingan Ibumu njawab “Ra tau sih, tapi Bapakmu ki mangkelke”. Yo rapopo to nak, mending nggawe mangkel, mbangane nggawe tangis.

Pokoknya, pesan Bapak kamu harus hati-hati dalam bergaul, jadilah anak yang sederhana. Misalnya kamu sekarang cuma bisa jalan kaki, ya ndak usah iri sama yang kemana-mana pake mobil, hidup itu cuma tentang bersyukur nak. Ketika kamu sudah ahli dalam bersyukur, Bapak jamin hidupmu jauh lebih tentram.

Oiya, satu lagi. Jadilah anak yang ndak segan untuk menghargai karya teman. Jangan salah, terkadang status teman menjadi penghalang untuk kita menghargai sebuah karya. Weeh, pas Bapak masih seusiamu, ndak semua orang bisa menghargai karya temannya sendiri. Misalnya, ada teman pentas kesenian, eh kamu minta tiket harga teman. Atau ada teman bikin buku, kamu minta gratisan mentang-mentang kamu berteman sama dia, yang kayak gitu ndak boleh ya, anak Bapak harus menjadi anak yang bisa menghargai orang lain.

Yaudah nak, pesan Bapak sampai sini dulu, besok tak sambung lagi, masalahnya Ibumu lagi rewel njaluk diterke Pasar, katanya mau belanja buat arisan di rumah. Padahal nek arisan ki isine mung nggosipi Bapak dan para suami lainnya. Yah, namanya perempuan nak, suatu saat kamu juga akan merasakan sensasi berumah tangga.

Oke nak, sampai jumpa lagi. Bapak sayang kamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s